AS Akan Kirim Kembali Kapal Induknya Ke Teluk Persia
3 Januari 2012Meski ancaman Iran, Amerika Serikat bertekad tetap akan mengirimkan kapal perangnya ke Teluk Persia. Angkatan laut Amerika ke depan akan terus mengupayakan kelancaran lalu lintas kapal-kapal di wilayah itu dan melewati Selat Hormuz yang secara strategis penting. Demikian menurut pernyataan kementrian pertahanan dan angkatan laut AS hari Selasa (3/1). Hal ini juga penting untuk mengamankan pasokan bagi pasukan AS di wilayah itu. Namun jurubicara Pentagon, George Little menegaskan hari selasa (3/1), AS tidak berminat terlibat konfrontasi dengan Iran mengenai Selat Hormuz dan ingin mengurangi ketegangan.
Iran peringatkan AS untuk tidak kirim kembali kapal induknya
Sebelumnya, angkatan bersenjata Iran mengeluarkan ancaman agar kapal induk AS yang baru-baru ini ditarik dari Teluk Persia, tidak lagi dikirim kembali. Panglima angkatan bersenjata Iran, Ataollah Salehi menegaskan, Iran tidak ingin mengulangi ancaman itu. Sementara kepala staf angkatan laut Iran, Habibollah Sajari menambahkan, ke depan Iran sendiri yang akan mengamankan perairan di Teluk Persia. "Keberadaan pasukan asing tidak diperlukan," ujarnya.
Hari Senin (2/1) militer Iran mengakhiri pelatihan besar-besaran di wilayah itu dan juga melakukan ujicoba rudal. Iran selain itu mengancam akan memblokade Selat Hormuz bila sanksi internasional diterapkan terhadap ekspor minyaknya akibat pertikaian seputar program atom Iran. Sekitar 40 persen minyak bumi yang diangkut dengan kapal, melewati Selat Hormuz. Banyak negara menduga, Iran mengembangkan senjata atom. Pemerintah di Teheran menyangkalnya dan mengatakan, program atomnya hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi.
Perancis desak UE keluarkan sanksi baru
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Perancis, Allain Juppè mendesak Uni Eropa mengikuti AS untuk menerapkan sanksi terhadap ekspor minyak Iran. Ia mengatakan, kesepakatan mengenai hal ini diharapkan dapat diambil pada pertemuan para menlu UE 30 Januari mendatang.Juppè juga menganjurkan untuk membekukan aset Bank Sentral Iran. Menteri Luar Negeri Jerman, Guido Westerwelle pada dasarnya mendukung gagasan sanksi berikutnya terhadap Iran. Demikian diutarakan seorang jurubicara kementrian luar negeri di Berlin. Menurut Westerwelle, terutama sumber pendanaan program atom yang harus dihentikan. Karena itu Jerman mendukung upaya ke arah tersebut.
Pembeli minyak terpenting Iran adalah Cina. Bulan Januari Cina telah mengurangi 50 persen pesanan minyaknya dari Iran. Di Uni Eropa, Italia dan Spanyol merupakan pengimpor minyak dari Iran yang terbesar. Khawatir konflik antara AS dan Iran meruncing, harga minyak mentah Laut Utara Brent naik empat Dolar melebihi 111 Dolar per barel. Nilai tukar mata uang Iran, Rial ke Dolar AS mencapai rekor yang terendah. Di depan bank-bank di Iran terlihat antrian panjang dari orang-orang yang hendak membeli Dolar dengan harapan dapat menyelamatkan tabungan mereka. Sejumlah tempat penukaran mata uang ditutup karena membludaknya warga yang hendak mendapatkan mata uang asing.
Christa Saloh-Foerster/rtrd/afpe
Editor: Marjory Linardy